Tepat di bulan Mei 2015, Kota Surabaya berulang tahun yang ke 722. Cukup tua untuk ukuran kota di Indonesia. Sebagai kota terbesar ke 2 setelah Jakarta tentunya kota Surabaya semakin bersolek semakin anggun, cantik rapi juga bersih. Apalagi kali ini kota surabaya dipimpin oleh ibu Tri Rismaharini (ibu Risma) sebagai Walikota Surabaya.
Kebudayaan Surabaya
Surabaya merupakan kota multi etnis yang kaya akan budaya. Beragam etnis bermigrasi ke Surabaya. Sebut saja etnis Melayu, China, India, Arab dan Eropa sementara etnis Nusantara sendiri antara Lain Madura, Sunda, Batak, Kalimantan, Bali, Sulawesi datang dan menetap, hidup bersama serta membaur dengan penduduk asli membentuk pluralisme budaya yang kemudian menjadi ciri khas kota Surabaya.
Inilah yang membedakan kota Surabaya dengan kota-kota di Indonesia. Bahkan ciri khas ini sangat kental mewarnai kehidupan pergaulan sehari-hari. Sikap pergaulan yang sangat egaliter, terbuka, berterus terang, kritik dan mengkritik merupakan sikap hidup yang dapat ditemui sehari-hari. Bahkan kesenian tradisonal dan makanan khasnya mencerminkan pluralisme budaya Surabaya.
Budaya daerah, tradisi dan gaya hidup yang berbeda di setiap daerah merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung. Budaya daerah ini antara lain, kesenian, pakaian adat, upacara adat, gaya hidup, dan kepercayaan.
Budaya Surabaya yang terkenal antara lain Undukan Doro, Musik Patrol dan Manten Pegon. Salah satu upaya Pemerintah Kota Surabaya untuk melestarikan budaya kota Surabaya adalah dengan pemilihan Cak dan Ning Surabaya, yaitu duta budaya kota Surabaya.
Kesenian
Kehidupan berkesenian Kota Surabaya tumbuh dengan baik. Kesenian tradisional dan modern saling melengkapi membentuk keragaman kesenian Surabaya. Kesenian tradisional tumbuh karena perjalanan sejarah melawan penjajahan zaman dahulu sampai saat ini tetap dilestarikan. Bentuk kesenian tradisional banyak ragamnya. Ada seni tari, seni musik dan seni panggung.
Sudah sangat dikenal kalau Ludruk adalah kesenian rakyat asli Jawa Timur. Kesenian rakyat yang berasal dari Jombang ini, menjadi maskot budaya khas Surabaya, terutama tarian Ngremo – nya. Ludruk sudah ada sejak jaman Jepang sekitar tahun 1942. Dan menjadi sangat populer di Surabaya sejak zaman revolusi.
Gending Jula-Juli Suroboyo, Tari Remo, Kentrung, Okol, Seni Ujung, Besutan, upacara Loro Pangkon, Tari Lenggang Suroboyo dan Tari Hadrah Jidor.
Sementara kesenian modern juga tumbuh pesat. Sejumlah sanggar tari berkonsentrasi mengembangkan perpaduan seni tradisional dan modern. Namun demikian banyak group tari mengembangkan kreasi modern, misalnya Marlupi Dance, Gito Maran.
Upaya untuk mewujudkan kehidupan berkesenian di Surabaya dikembangkan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) maupun perkumpulan-perkumpulan seni teater, seni lukis dan musik. Pameran seni lukis maupun seni teater seringkali diselenggarakan di Gedung Balai Pemuda. Sementara pagelaran seni tari tradisional selalu digelar di Taman Hiburan Rakyat (THR) dan Taman Budaya. Surabaya Symphony Orchestra (SSO) juga mengambil peran penting dalam menumbuhkan seni musik di Surabaya.
MAKANAN KHAS SURABAYA
Apabila anda sedang berkunjung ke kota Surabaya, rasanya tidak lengkap bila anda tidak mencicipi masakan khas kota Surabaya diantaranya adalah :
1. Rujak Cingur
2. Tahu Tek
3. Pecel Semanggi
4. Lontong Balap.
5. Sate Kol.
Anda juga bisa membaca Artikel ini :
Jumlah Penduduk Kota Surabaya
Dengan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 3,110,187 Orang di Tahun 2012, Kota Surabaya berkembang sebagai Kota Metropolitan. Posisi strategis Kota Surabaya sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat membuatnya selalu dinamis. Menjadi pusat aktivitas sama artinya menjadi jujugan bagi orang dari berbagai daerah. Jumlah penduduk jelas akan semakin meningkat seiring pesona Kota Surabaya yang menjanjikan segala macam kemudahan. Maka tantangan besar berikutnya ialah menyiapkan kehidupan yang layak. Kota Surabaya haruslah tetap menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi penghuninya.
GEOGRAFIS KOTA SURABAYA
| Surabaya adalah ibu kota Propinsi Jawa Timur yang dikenal sebagai Kota Pahlawan |
| Letak | : | 07 derajat 9 menit - 07 derajat 21 menit LS (Lintang Selatan) dan 112 derajat 36 menit - 112 derajat 54 menit BT (Bujur Timur) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Ketinggian | : | 3 - 6 meter di atas permukaan air laut (dataran rendah), kecuali di bagian selatan terdapat dua bukit landai di daerah Lidah & Gayungan dengan ketinggian 25-50 meter di atas permukaan air laut | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Batas Wilayah | : |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Luas Wilayah | : | 33.306,30 Ha | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Jumlah Kecamatan | : | 31 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Jumlah Desa /Kelurahan | : | 160 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Kelembapan Udara | : | rata-rata minimum 50% dan maksimum 92% | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Tekanan Udara | : | rata-rata minimum 1942,3 Mbs dan maksimum 1012,5 Mbs | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Temperatur | : | rata-rata minimum 23,6 °C dan maksimum 33,8 °C | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Musim kemarau | : | Mei – Oktober | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Musim hujan | : | Nopember – April | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Curah Hujan | : | rata-rata 165,3 mm, curah hujan diatas 200 mm terjadi pada bulan Januari s/d Maret dan Nopember s/d Desember | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Kecepatan Angin | : | rata-rata 6,4 Knot dan maksimum 20,3 Knot | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Arah Angin Terbanyak | : |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Penguapan Panci Terbuka | : | rata-rata 143,2 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Struktur Tanah | : | terdiri atas tanah aluvial, hasil endapan sungai dan pantai, di bagian barat terdapat perbukitan yang mengandung kapur tinggi | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Topografi | : | 80% dataran rendah, ketinggian 3-6 m, kemiringan < 3 % 20% perbukitan dengan gelombang rendah, ketinggian < 30 m dan kemiringan 5-15% |


